Minggu, 08 Agustus 2010

persimpangan jalan

Setelah dihajar dengan pertanyaan berbahasa inggris lebih kurang 2bulan yang lalu oleh salah satu kantor hukum terkemuka di Indonesia, gw sempat ragu mengenai masa depan karir gw di dunia hukum. Seolah-olah gw adalah orang paling tolol yang berani apply ke kantor tsb(salut ga lo sama nyali gw?!!?ha6). Disertai dengan simpang-siurnya pikiran gw dalam 1bulan terakhir utnuk terus fokus dalam hukum. Seolah masa depan gw sangat blur dan gw tidak berani membayangkan mau jadi apa setelah mendapat gelar Susah Hidup.
Sempat juga terbayangkan untuk banting stir. Gw melihat ada bberapa temen gw yang berhasil dibidang lain. Meski berstatus mahasiswa, mereka tergolong sukses dalam mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Lain sama gw yang duit jajan aja masih ngemis sama emak. Sembari gw melirik lowongan-lowongan kerja di koran hari sabtu dan minggu. Ternyata banyak juga lowongan jadi manajer anu, ini, ono(pantes anak ekonomi berjubel2 :D). Apa gw jadi manajer aja ya, begitu dalam hati gw berpikir.
Sembari iseng-iseng ngobrol di forum lawyer, gw iseng2 nanya kantor mana aja sih yang nerima anak magang? Dan dalam pertanyaan itu gw menyisipkan satu frasa, MALAS. Dan tanpa terasa, jawaban salah satu member disana memberikan gw pencerahan. Berikut gw quote dia ngo apa :
"IMHO, kalo lo serius mau jadi lawyer, jgn takut berusaha. Kalo blum apa2 lo dah males, susah man. jaman skrg org pinter banyak. Tapi org yg tahan banting bisa diitung pake jari. At the end of the day, yg bakal survive adalah org yg tahan banting. Intinya, kalo emang niat mau berusaha, yah masukin aja. Loperm itu bukan government institutions yg penuh dgn birokrasi njelimet. Banyak loperm yg nggak punya program magang, tapi sekali2 tetep nerima kalo ada aplikasi yg menarik."
Fiuzzz, gw serasa disegarkan kembali(layaknya iklan mizone). Kalimat simple, namun mengingatkan gw bahwa sukses dicapai dengan kerja keras, bukan MALAS! Sekaligus meruntuhkan keraguan gw untuk terus maju dalam dunia hukum.
Bulan-bulan ke depan akan menjadi bulan yang berat buat gw, transisi kuliah - kerja. Karena gw uda sem akhir dan masuk skripsi. Udah harus cari magang. Pilihannya cuma, maju atau mundur. Dan gw memilih maju dengan semangat, tekad, kerja keras dan iman :D
*terimakasih kepada senior kodokgosong dalam forum lawyers.forumotion.net ; kalimat anda menyemangati sy kembali.

Read more...

Kamis, 29 Juli 2010

diagnose

Hari ini, setelah mendapat hasil check darah terhadap salah satu organ tubuh, saya mendapati hasil yang sangat buruK(jika tidak mau dikatakan parah). Bayangkan saja, hasil yg didapat ternyata berjumlah 2-3x lipat batas ambang normal. Berarti saya sudah mau mati? Terlalu cepat utk berkesimpulan seperti itu, namun yang pasti kondisi tubuh saya sdg labil. Hal ini membawa saya kepada suatu kondisi untuk membayangkan jika suatu saat saya mati akibat penyakit tsb. Homm, itu bukanlah cara mati ideal bg saya, sy lebih memilih untuk mati ditembak di kepala(biar cepat) daripada mati perlahan2 akibat penyakit atau kehabisan nafas. Namun bukan itu poin saya kali ini,ha5.

Membayangkan jika suatu saat nanti mati, itu sudah pasti. Namun pertanyaannya adalah mengenai 'kapan'. Hari, tanggal, jam berapakah yang akan datang menghentikan waktu sy? Tidak ada yang tahu. Lantas saya pun berpikir, untuk apa capek2 menabung, irit segala macam, cari pemasukan sana-sini, dengan tujuan untuk beli tiket ke Beijing, naik Trans-Siberia, nyampe di Moscow, keliling Eropa ; jika saya mati satu hari sebelum keberangkatan?!? Terdengar ironis dan sinting, namun itu bisa jadi hal tsb menjadi fakta nantinya. Siapa yang tahu?

Yang akan saya sesalkan jika hal tsb terjadi, yang saya anggap juga sama bagi kita semua dengan kondisi masing-masing, adalah jika selama ini kita mengejar hal yang salah. Sy contohkan misalnya, karena terlalu berangan-angan ingin backpacking keliling Eropa, dengan kondisi tubuh yang tidak baik, saya menabung dan bekerja sedemikian rupa,sampai2 saya melupakan kewajiban untuk berbagi terhadap sesama, untuk peduli pada orang di sekitar.Saya bahkan sampai lupa bahwa tujuan hidup ini bukanlah uang. Itulah yang akan saya sesalkan. Bagaimana tidak? Kerja keras selama ini seolah sia-sia, dan pada akhirnya barulah kita sadari bahwa hal yang dilakukan adalah salah.

Semoga kita hidup, di sisa-sisa waktu yang ada, tidak menapakkan kaki di jalur yang salah. Wish me luck!

Read more...

Minggu, 23 Mei 2010

Kegagalan pelayanan

Bulan desember nanti, saya dan tim teater drama saya berencana untuk mengisi acara natal di sebuah pos pelayanan tempat ibadah saya di daerah Jawa Tengah sana. Cukup jauh, dan tentunya butuh persiapan extra karena ini bukan acara main-maian. Lantas, ketika bercerita ttg hal ini kepada seseorang, ia menjawab " ngapain kesana?? disana jemaatnya sedikit. Mending ke tempat lain yang lebih rame orangny." Mungkin ia bermaksud untuk berkata, ngapain cape2 kesana, yang nntn cuma dikit, buang2 uang dan tenaga. Saya cuma bisa tersenyum, dan langsung teringatakan sebuah cerita.

Dahulu, di sebuah negara di Eropa, seorang misionaris dikirim untuk mengabarkan injil ke sebuah pedalaman di Afrika. Dengan penuh optimisme, dia sampai di Afrika dan mulai hidup bersama dengan penduduk lokal. Namun keadaaan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Penduduk disana bebal dan tidak mau diajar, yang berdampak pada buruknya pelaksanaan misi yang diembannya. Tak disangka, 3-4 tahun telah berlalu, setiap kali dia berkotbah hanya ada 1 ank remaja yang senantiasa mengikutinya. Bayangkan jika teman2 nasrani yang mengabarkan injil selama 3-4 tahun, cuma ada 1 yang ikut! Dipastikan itulah kegagalan terbesar yg mungkin pernah ada. Bayangkan anda berkotbah, hanya didepan 1 orang.

Alhasil, ketika evaluasi tsb sampai di telinga petinggi2 dari misionaris tsb, diputuskanlah misinya berakhir karena tidak bisa memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat disana. Sang misionaris pulang dengan perasaan kecewa karena pelayannannya gagal. Ia menitipkan sebuah alkitab kepada anak remaja yang senantiasa setia menemaninya. Sekitar 10-15 tahun kemudian, ada sebuah tim misionaris yang berkeinginan memulai pelayanan baru di daerah bekas misionaris yang dahulu. Sumber informasi meberitahu bahwa disana tidak ada tmpt ibadah, orangnya bebal dan rusak moralnya. Sudah pernah ada penginjilan, namun gagal!

Maka berangkatlah tim tersebut, dan ketika sampai di tempat itu, semua tersentak! bagaimana tidak, di daerah yang konon gagal pelayanannya, berdiri sebuah gereja dan seluruh penduduk tsb adalah jemaatnya. Loh?!? Bagaimana bisa?? Bukankah tidak ada orang yang mendengar kotbah sang misionaris, kecuali satu anak remaja?!? isa ditebak memang, anak remaja tsb lah yang memberi dampak perubahan pada seisi daerah tersebut.
Sy tidak mau berlama2 di cerita ini, the end aja deh..:D

Terkadang ketika kita melakukan suatu hal, kita terpaku pada kuantitas, pada jumlah, pada abanyakanya orang yang datang. Namun kita lupa bahwa hal yg lebih penting adalah kualitas. Bukan banyak/sedikitnya orang yang menentukan keberhasilan, namun kualitas lah yang berbicara. Mungkin terkadang ketika kita membuat sebuah acara dalam persekutuan seringkali kita kecewa karena yang datang tidak lebih dari 10orang. Langsunglah kita mennagis, marah dan kecewa, kok yg datang sedikit. Namun permisi numpang tanya, apakah kita dalam kapasitas menilai suatu pekerjaan berhasil atau tidak? Sy hanya ingin mengingatkan, tugas kita hanya bekerja dan melayani, urusan berhasil atau tidak itu urusan yang DIATAS. Jangan fokus kepada jumlah, namun fokuskanlah bagaimana orang dapat kita ubah kualitasnya, tidak peduli 1, 10, atau 100 orang sekalipun..

Read more...

Minggu, 16 Mei 2010

RoeTi

Masih ingat dengan kisah HOME? Ladang pelayanan saya di area Roxy sana. Tragis, itu kata yang mau gw ungkapkan. Terakhir gw pergi kesana adalah September 2009. Pernah datang sekali ketika maret 2010, namun cuma buat anterin calon donatur. Melihat kondisi yang sekarang, hati gw miris. Dulu tempat ini pernah menjadi tersohor, namun karena masalah yang fundamental, tempat itu kini menjadi pesakitan. Hidup segan mati tak mau. Struggling and surviving around this circumstances.
HOME memang kini berganti nama menjadi RoeTi(Roemah Hati). Tempat yang pernah gw bayangkan akan menjadi besar dan bisa memenangkan banyak jiwa. I expect a lot of hope and desire there. Namun benar, rencana manusia belum tentu sejalan dengan rencanaNya.
Saat ini, gw sendiri sudah mengambil satu keputusan untuk turut membangun dan memperbaiki tempat tsb. Sempat ragu dengan jumlah anak2 yang menurut gw kok semakin berkuranng. Namun kuantitas bukan masalah fundamental. Meski cuma 2-3 anak pun yang mau belajar, gw akan tetap ada disana. Banyak hal yang baik terjadi dalam hidup gw, kini saatnya gw bagikan kepada orang lain. Khususnya adik2 gw disana.

Masalah yang tak kalah seru adalah, gw ud bilang gw gak akan pernah ngajar, karena gw gak bisa sama yang namanya ngajar. Makanya gw gak pernah parttime jadi guru ngajar les ke rumah anak2, meski banyak temen2 gw yang secara akademis jauh dibawah gw yang malahan ngajar.(sory bro, no offense..:D)
Dan tuntutan di RoeTi tentunya adalah kemampuan untuk mengajar. Mati gw! dalam hati seolah ingin berteriak minta kerjaan lain. Ngangkat beras kek, jadi tukang tambal ban kek, apa kek asalkan jangan ngajar. Well, ternyata bukan masalah bisa atau tidak, tapi bersediakah dan maukah untuk belajar mengajar???

Jadi, biarlah diingat, Jumat,14 Mei 2010 adalah momen perdana gw ngajar. ada 5 anak yang diajar, dan duduk di kelas 5. Ngajar nya ga tanggung2, IPA(belajar kulit bumi, kerak bumi, jenis batuan.. oh crap...)
Namun, selepas ngajar gw tersenyum. At least, i've proved that what i learn about peace and love, not just in my mouth, not just in my mind, but it's true i did. hahaha..

Semoga RoeTi terus ada untuk menjadi berkat..

Read more...

reminder

Kamis kemarin(13/05), saya datang, duduk, dan mengikuti suatu acara keagamaan yang dirayakan sebagai libur nasional juga. Hal yang cukup menarik perhatian adalah sosok pembicaranya yang konon katanya melayani banyak sekali orang di Papua. Waktu yang dipakai dia untuk berbicara cukup panjang, karena setelah dilihat2 waktu yang dipakai dalam rangkaian acara lebih kurang adalah 3,5 jam. Jujur, saya sendiri tidak hafal, ingat, apalagi mencatat apa2 saja yang dia katakan. Namun ada beberapa poin yang akan saya bagikan, mesaki terkesan terfragmentasi satu sama lain, karena juga digabungkan dengan apa yang sy dapat hari ini dalam ibadah.

1.Kapan terakhir anda memberikan makan kepada orang lain? Hal ini smpt membuat saya terenyuh dan merenung. Saya ingat tahun 2006 pernah memberikan sepotong roti kepada pemulung dibawah jembatan layang. Saya ingat seusai acara natal, kue2 yang saya dapatkan saya berikan kepada pemulung di Grogol. Saya ingat selepas latihan drama, saya memberikan sebungkus nasi padang kepada homeless people di jembatan 3. Wauw, hebat bukan ingatan saya?!? Namun justru itu adalah hal yang memalukan! Saya hanya ingat pernah memberikan 3kali makan kepada orang. Bukankah itu berarti saya mengingat perbuatan baik yang saya lakukan, dan jumlahnya hanya 3kali?!? Sebaliknya yang terjadi apabila saya sudah SERING dan SELALU memberikan makan kepada orang, tentunya saya tidak akan pernah ingat kapan dan berapa kali sy memberikan makan kepada orang. Karena sudah BIASA. a big slap on my face. Saya masih kurang berbuat kebaikan. Kata orang perbuatan baik jangan dihitung, sy menghitung perbuatan baik bukan karena melanggar norma tsb, namun memang terlalu sedikit yg sy lakukan.

2.Jangan pernah menghina orang lain. Orang2 awkward or nerd like we know, sering jadi bahan tertawaan. Apalagi saya yang konon katanya paling jago dan hebat mentertawakan orang, even this people has an ordinary look like the other. Just for joke i said. But, a bigger slap on my face again. Sang pendeta dengan lantang berkata, jangan pernah menghina orang lain. Awww, ini penyakit lama saya yang sulit untuk disembuhkan. Sejelek apapun orang, saya tidak punya HAK untuk menertawakan dia.

3.Sebagai orang yang punya Tuhan yang pengasih, apakah saya sebagai makhluk hidup juga punya kasih. Ilustrasi yang diberikan adalah telur bebek. Saya adalah garam. Untuk mengasinkan sebutir telur bebek, tidak dibutuhkan waktu yang lama. Namun, kenapa banyak 'garam2' tidak bisa mengasinkan. Yang saya takutkan adalah saya membuat orang darah tinggi dengan 'garam yang buruk'. Merefleksikan hidup saya, bahwa seringkali saya menjadi garam bukan mengasinkan, malah bikin darah tinggi. dan matii..:D

3poin ini masih sedikir dari beberapa hal yang mau sy tulis, sayang lupa! hahaha..
tulisan mendatang kiranya akan menambah bbrp pelajaran baru. Bravo kulinerista!

Read more...